
SALAM HANGAT KAWAN ?
Selamat datang di semuakawan.co.cc, Tempat kumpulan tips-tips simple gimane caranye jadi Yang Namanya PENGUSAHA MUDA INDONESIA.
Ayo Bangkit . . . . Negeri Ini. . . . Lewat Unggulnya anak bangsanya. . .
Ayo Kita Buat Komunitas Pengusaha Muda Indonesia.
Kumpulan Info Bisnis
Mari ramai-ramai berkebun emas. Emas zero inflansi. Bagi pengusaha, karyawan, IRT, Mahasiswa wajib tahu ilmunya. Dan segera miliki kebun emas. (Baca Selanjutnya)
Info Penting Formula Bisnis
Internet tidak hanya gudang informasi, tapi gudangnya rizki jika kita tahu caranya. (Baca selanjutnya)
Ngumpulin Dollar ke Paypal Yuk ..
Paypal adalah rekening dollar di internet. Bagi yang belum py cepetan daftar di www.paypal.com, sudah itu temukan rahasia mengisi dollar ke paypal (Baca Selanjkutnya)
AYO RAME2 JADI ENTREPRENEUR MUDA
SEMUA BISA JADI PENGUSAHA
dari www.semuasaudara.com
Banyak sekali jalan menjadi entrepreneur, bahkan ketika tak serupiah pun duit di kantong Anda. Bagaimana caranya? Peluang apa saja yang bisa segera ditubruk?
Tak ada profesi yang sedemokratis profesi Entrepreneur (wirausaha/pengusaha). Siapa pun Anda, asalkan hari ini punya keberanian, hari ini juga Anda bisa langsung menjadi pengusaha — bahkan ketika tak serupiah pun duit di kantong Anda. Bandingkan, misalnya, untuk menjadi dokter, Anda mesti kuliah dulu bertahun-tahun di fakultas kedokteran. Demikian pula profesi lain seperti pengacara, arsitek, apoteker, psikolog, atau ahli konstruksi.
Memang, umumnya orang berpandangan, untuk menjadi wirausaha kita harus menyiapkan uang tunai lebih dulu sebagai modal. Itu sebabnya banyak orang sibuk berburu uang untuk menghimpun modal, biasanya dengan menjadi karyawan di perusahaan orang. Setelah dirasa cukup, barulah memutuskan membuka usaha sendiri. Namun ceritanya akan lain jika — dan ini yang sering terjadi — uang yang didapat ternyata dirasa hanya pas untuk hidup sehari-hari. Alhasil, cita-cita membuka usaha sendiri tinggallah cita-cita, karena usia keburu habis tersita untuk memikirkan kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
Pandangan bahwa untuk memulai usaha harus tersedia uang tunai, tak sepenuhnya benar. Dan itu telah dibuktikan oleh para pengusaha sukses. Sebagian besar dari mereka mengawali usaha justru ketika mereka tidak punya apa-apa, terdesak, putus sekolah/kuliah lantaran tak ada biaya, atau bahkan karena merasa terhina. Dalam kondisi nothing to loose ini, keberanian dan kenekatan mereka muncul. Dalam kondisi bukan siapa-siapa, mereka dipaksa untuk membangun “mimpi” masa depan, tertantang untuk meraihnya, dan berusaha keras menyusun strategi untuk mencapainya.
Keberanian dan motivasi yang menyala-nyala itu sekaligus menyingkirkan segala hal yang sebelumnya dianggap memalukan. Misalnya, karena tak punya uang serupiah pun di kantong, mereka tak segan-segan mengawali usaha sebagai makelar rumah, mobil, barang elektronik, aneka bahan bangunan, bahan kebutuhan pokok, atau barang-barang lainnya. Dengan modal dengkul ini, mereka langsung memetik keuntungan dari komisi atau berdasarkan kesepakatan lain yang ditentukan bersama pemilik barang.
Cara lain, misalnya, menjual jasa dengan lebih dulu meminta uang muka. Ini bisa dilakukan di industri jasa pendidikan seperti bimbingan belajar, les bahasa Inggris, kursus musik (piano, gitar, biola, dan sebagainya). Atau, bisa juga konsumen memesan barang tertentu kepada kita, tetapi sebelum barang pesanan itu kita kerjakan, kita minta uang muka lebih dulu. Nah, uang muka dari para konsumen itulah yang kita jadikan modal untuk menggelindingkan bisnis.
Pak Jaya memang TOP DAH
ini dia Judulnya
ADA SEMUT, JUALAN COKLAT, ROTI, SUSU...
Memang benar pepatah lama “Ada gula, ada semut”, sesuatu yang ‘manis’ akan menarik orang untuk datang. Manis sendiri bisa diartikan uang, kelimpahan, keilmuan, sesuatu yang enak dan lain-lain. Dalam dunia bisnis, saya mengartikan “sesuatu yang menarik, akan mendatangkan orang”. Sesuatu yang ‘menarik’ di metaforakan sebagai ‘gula’ dan orang yang datang ‘mengerubuti’, diibaratkan sebagai ‘semut’.

Dalam istilah marketing, tenant anchor yang dapat mendatangkan keramaian (traffic), sebagai gulanya. Nah, para pemilik gula ini biasanya mendapatkan fasilitas yang istimewa, seperti sewa gratis selama beberapa tahun atau kemudahan-kemudahan lainnya. Kenapa mereka bisa mendapat sewa gratis? Ya karena bisa mendatangkan keramaian tadi! Contohnya, para hypermarket yang terkenal seperti Carefour dan Hypermart. Biasanya mereka berada di bagian belakang, bawah, ujung dari suatu mal. Mengapa? Supaya para ‘semut’ yang akan mendatangi mereka, melewati lorong-lorong mal terlebih dahulu. Jika setiap lorong mal tersebut ramai dengan orang lewat, pasti gampang jualan kiosnya.
Coba bayangkan jika Anda berjualan di tempat yang lalat atau semutpun tidak ada yang lewat. Meski murah tempatnya, seperti jualan di kuburan bukan? Kalau siang hari bisa jualan kembang dan kemenyan. Bagaimana kalau malam hari? Jualan bakso sama suster ngesot? Lain halnya jika Anda menyewa suatu tempat yang sudah pasti banyak semutnya, pasti gampang jualannya. Anda bisa berjualan coklat, roti, susu kental manis, atau segala sesuatu yang disukai sang semut. Pertanyaannya, bagaimana cara mendatangkan semut? Ya itu tadi, gulanya disebar dulu!
Apa saja yang bisa jadi gula?
Gula bukan berarti harus tenant besar seperti Carefour, bisa juga kita sendiri yang menciptakan gulanya. Contohnya jika Anda membuka usaha cuci mobil, bagaimana agar para semut datang? Anda bisa mengundang mereka dengan ‘gula gratis’ (baca: cuci gratis). Nah, anehnya, semut dalam bisnis bisa dipancing. Sudah manusiawi, jika ada keramaian, pasti membuat orang lewat penasaran,”Apaan sih itu?”. Dan anehnya juga, kebanyakan orang berasumsi bahwa ‘ramai’ itu artinya ‘laris dan enak’. Bagaimana Anda memutuskan untuk makan di suatu tempat? Selain dari referensi semut yang lain (semut get semut), dari tempat yang kelihatan banyak semut kan? Jadi intinya, semutpun perlu pancingan. Gula bukanlah akhir dari penjualan Anda. Gula hanyalah umpan untuk mendatangkan semut. Setelah para semut datang, Anda bisa menawarkan menu-menu yang lainnya untuk menambah pemasukkan. Boleh creambath gratis, tapi sambil menawarkan vitamin, hair tonic, potong rambut, refleksi kaki, manicure dan pedicure. Soto boleh tidak untung, tapi perkedel, sate kerang, krupuk parunya membuat untung. Persewaan lapangan futsal mungkin super murah, tapi sewa kios di sekitarnya super mahal, belum lagi pemasukan dari iklan disekitarnya
Jadi jangan heran jika ada kafe, salon sampai lapangan futsal yang berani memasang tarif super murah dan tidak masuk akal, dengan tujuan mendatangkan semut. Yang terpenting adalah mendatangkan traffic di tempat usaha, selanjutnya terserah Anda...
FIGHT!
dari www.yukbisnis.com
JELI MENANGKAP PELUANG
Ada ungkapan bijak yang patut kita renungkan: "Orang gagal menyia- nyiakan kesempatan. Orang biasa umumnya menunggu kesempatan. Tapi, orang sukses menciptakan kesempatan."
Ungkapan itu begitu dekat dengan realitas hidup yang kita jumpai. Saya mempunyai seorang kawan yang mempunyai rencana bisnis besar dan cemerlang. Akan tetapi, dia tidak segera mengeksekusi idenya alias sekadar menunggu.
Ada kisah lain yang menarik. Saat menjadi pembicara di sebuah seminar di Kota Samarinda beberapa bulan lalu, ada pengalaman yang mengusik akal budi saya. Saat itu, kami meluncur melalui kawasan hutan belantara. Usai berkendaraan selama dua jam lebih, kami berhenti di sebuah persinggahan yang dikelilingi pepohonan lebat.
Akan tetapi, persinggahan itu tampak ramai oleh pengunjung. Banyak mobil terparkir memadati halaman depan. Ternyata, di situ ada sebuah gerai makan yang menyajikan makanan tahu. Tentu saja, gerai ini memikat para pengendara yang lapar di jalan. Tampaknya, bisnis tahunya cukup sukses.
Nah, yang menarik bagi saya adalah bagaimana si pemilik gerai makan ini melihat peluang berjualan tahu enak di tengah hutan belantara ini. Pasti sudah banyak orang melewati jalanan tengah hutan ini. Tapi, mengapa hanya si pemilik gerai yang melihat adanya peluang ini. Sebuah pertanyaan yang menggelitik.
Mari kita tengok kisah sukses lainya. Bisnis minuman kemasan Aqua sukses menjadi market leader lantaran sosok Tirto Utomo yang pertama kali melihat peluang tersebut. Semua orang mengalami haus dan butuh air. Tapi, mengapa Tirto Utomo melihat fenomena biasa itu sebagai peluang?
Ada juga sosok dunia bernama Jeff Bezos. Kita tahu ada begitu banyak orang yang mengharapkan dan membeli buku melalui Internet. Namun, mengapa hanya Jeff Besos yang melihat peluang ini? Nah, ada banyak kisah sukses lainnya yang berawal dari kepekaan menangkap peluang.
Yang jelas, dari beberapa orang yang sukses tadi, rata-rata mereka memprogram dirinya untuk melihat peluang dan kesempatan di mana-mana. Lantaran matanya tertuju kepada sesuatu yang baik, otaknya pun memengaruhi dirinya untuk mencari dan melihat peluang kapan pun dan di mana pun.
Ada seorang pelatih dari luar negeri yang menjelaskan fenomena itu dalam sebutan mental kaya dan mental miskin. Baginya, seorang dengan mental miskin apabila sedang bepergian, matanya selalu tertuju kepada apa saja yang bisa dibelinya. Sebaliknya, orang yang bermental kaya justru akan mengarahkan matanya untuk melihat barang-barang serta bisnis apa yang bisa dijual dan dijalankannya.
Stochoma
Satu contoh terjadi saat Anda membeli mobil baru. Usai membeli mobil baru, Anda melihat banyak sekali mobil yang sama di jalan. Bukankah mobil itu sudah ada sebelum Anda membeli mobil tersebut. Apakah gara- gara membeli mobil baru, mendadak semua orang di jalan juga menggunakan mobil merek dan tipe sama dengan mobil yang Anda beli? Tentu saja tidak demikian.
Sebenarnya, masalahnya sederhana. Mata Anda yang tadinya buta dengan mobil-mobil itu, tiba-tiba dibukakan untuk melihat mobil-mobil tersebut. Kebutaan sementara inilah yang disebut dengan stochoma.
Tentu saja, ada akibat buruk stochoma bagi kehidupan kita keseharian. Kita bisa menjadi buta terhadap berbagai peluang dan kesempatan yang terpampang di depan mata kita. Percayalah, peluang dan kesempatan datang menghampiri kita timbul tenggelam setiap hari.
Namun, mata kita sering dibutakan untuk tidak melihat peluang dan kesempatan itu. Susahnya, semua peluang dan kesempatan itu selalu 'menyamar' dalam bentuk orang-orang dewasa, kejadian biasa, ataupun situasi umum, sehingga tidak mudah kita kenali.
Hal ini mengingatkan saya kepada satu hadiah masa kecil yang pernah saya peroleh dari luar negeri, yakni 'Find Walley' di mana kita harus mencari si "Walley" dalam sebuah gambar besar dengan warna dan pemandangan yang warna-warnanya mirip dengan bajunya "Walley", sungguh sulit dicari kalau tidak teliti.
Nah, saya pikir begitulah situasi kesempatan dan peluang yang muncul di depan kita. Kejelian dan keinginan yang luar biasa dibutuhkan sehingga kita bisa melihat, saat si "Walley" kesempatan itu muncul di hadapan kita.
Eksperimen
Tanpa disadari para sukarelawan itu, di tengah-tengah tayangan tersebut, muncul manusia berkedok gorila yang memukul-mukul dadanya lalu menghilang. Setelah tayangan selesai, para sukarelawan ini ditanyai apakah mereka melihat sesuatu yang aneh dalam tayangan tersebut. Ternyata, banyak di antara mereka yang luput dari menyaksikan kehadiran gorila tersebut.
Pertanyaan yang menarik adalah bagaimana mungkin gorila sebesar itu luput dari perhatian mereka? Apa yang menyebabkan hal tersebut terjadi? Begitulah, seperti penjelasan kita pada atas, para sukarelawan ini baru saja mengalami stochoma, kebutaan sementara.
Masalahnya, pikiran mereka begitu sibuk menghitung berapa kali bola itu dioper sehingga tidak bisa melihat kehadiran si gorila. Bukankah fenomena semacam ini sering terjadi dalam kehidupan kita? Banyak pengalaman menunjukkan saat-saat di mana kita juga seperti itu. Berbagai kesibukan ataaupun pikiran kita, kadang juga 'membutakan' kita dari berbagai peluang dan kesempatan emas yang hadir di depan kita.
Karena itulah, tulisan ini menantang kita untuk lebih waspada serta mulai melatih ulang fokus pikiran kita. Untuk itu, perlu sekali bagi kita untuk bersiap-siap dengan apa pun yang muncul di depan kita.
Di sisi lain, kita sendiri harus mulai melatih mata kita untuk melihat berbagai peluang dan kesempatan yang muncul di depan kita. Seperti dikatakan oleh Donald Trump dalam salah satu episode The Apprentice di mana dia mengajarkan para kandidat pengelola perusahaannya untuk 'membuka mata' melihat apa pun peluang bisnis yang mungkin ada di depannya.
Menurut Trump, insting seperti itulah yang dia warisi dari ayahnya dan dia latih sehingga mampu mengembangkan kerajaan bisnisnya. Bahkan, dia mengembangkan produk air mineral dengan gambar dirinya sendiri.
Jadi, maukah mulai sekarang Anda melatih mata Anda melihat peluang yang mungkin sedang bersliweran di depan mata Anda saat ini?
Sumber: Jeli Menangkap Peluang oleh Anthony Dio Martin
